BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Telah dikatakan bahwa
belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau
pembaharuan dalam tingkah laku atau kecakapan. Perubahan yang terjadi itu
sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dilakukan individu, perubahan
ini adalah hasil yang telah dicapai dari proses belajar, untuk mendapatkan
hasil belajar dalam bentuk perubahan harus melalui proses tertentu yang
dipengaruhi oleh faktor dan dalam individu dan diluar individu, proses ini
tidak dapat dilihat karena bersifat psikologis, kecuali bila terjadi dalam diri
seseorang hanya dapat disimpulkan dari hasilnya, karena aktifitas belajar yang
telah dilakukan.
Menurut
C.T. Morgan dalam buku Introduction To Psychology, Belajar adalah suatu
perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat/hasil dari
pengalaman yang lalu. Ringkasnya ia mengatakan bahwa belajar adalah setiap
perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu
hasil dari latihan atau pengalaman siswa mengalami suatu proses belajar
Menurut
Syai’ful Bahri Djamarah dalam bukunya “Psikologi Belajar” pengertian belajar
adalah serangkai kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya
yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik.
Secara
umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua
kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut
saling memengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil
belajar. Tugas utama seorang Guru adalah membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa
bila Guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa untuk mampu belajar.
Hal-hal seperti berikut, diantaranya Guru telah mengajar dengan baik, ada siswa
yang belajar dengan giat, siswa yang berpura-pura belajar, siswa yang belajar
dengan setengah hati, bahkan adapula siswa yang sesungguhnya tidak belajar.
Maka dari itu, sebagai Guru yang professional harus berusaha mendorong siswa
agar belajar dengan baik.
Ada
beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar,
menurut Lukmanul Hakim “Tiga aspek yang mempengaruhi keberhasilan guru dalam
proses belajar mengajar yaitu: kepribadian, pandangan terhadap anak didik dan
latar belakang guru”.
Terdapat
bermacam-macam hal yang menyebabkan siswa tidak belajar seperti siswa yang
enggan belajar karena latar belakang keluarga, lingkungan, maupun situasi dan
kondisi di kelas. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian ketika Guru
mengajarkan topic tertentu adapula siswa yang giat belajar karena dia
bercita-cita menjadi seorang ahli.
Dalam proses belajar tesebut, siswa menggunakan kemampuan
mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif,
afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin
rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya
penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebabkan
siswa semakin sadar, akan kemampuan dirinya.
Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif
menetap sebagai latihan dan pengalaman. Bisa juga dikatakan belajar adalah
proses adaptasi yang berlangsung secara progresif. Banyak aktivitas yang oleh
hampir setiap orang dapat disetujui kalau disebut perbuatan belajar, misalnya
mendapatkan perbendaharaan kata-kata baru, menghafal syair, menghafal nyanyian,
dan sebagainya. Belajar sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak
sekali hal-hal atau faktor-faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu
adalah banyak macamnya. Untuk itu penulis akan berusaha membahasnya dalam pokok
bahasan “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar”.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam penulisan
makalah ini rumusan masalah yang akan dikaji diantaranya:
1.
Apa saja faktor lingkungan yang mempengaruhi proses dan hasil belajar?
2.
Apa saja faktor instrumen yang mempengaruhi proses dan hasil belajar?
3.
Apa saja faktor fisiologis yang mempengaruhi proses dan hasil belajar?
4.
Apa saja faktor psikologis yang mempengaruhi proses dan hasil belajar?
1.3.Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya:
1.
Memahami faktor lingkungan yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.
2.
Memahami faktor instrumen yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.
3.
Memahami faktor fisiologis yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.
4.
Memahami faktor psikologis yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Adapun kegunaannya adalah:
1.
Menambah
wawasan dan sebagai bahan bacaan.
2.
Memenuhi tugas
terstruktur mata kuliah Psikologi Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
Prestasi belajar yang dicapai
seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang
mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri
(faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu
murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Kedua faktor
tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan
kualitas hasil belajar.
2.1. Faktor Eksternal
1)
Lingkungan social
a. Lingkungan
sekolah
Lingkungan sekolah sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan
belajar siswa, seperti guru,
administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang
siswa. Hubungan harmonis antara ketiganya
dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah.
Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi
dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar. Hal yang paling mempengaruhi keberhasilan belajar para siswa disekolah
mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa
dengan siswa, pelajaran, waktu sekolah, tata tertib atau disiplin yang
ditegakkan secara konsekuen dan konsisten.
b.
Lingkungan
social masyarakat.
Kondisi
lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Seorang siswa hendaknya dapat memilih lingkungan masyarakat yang dapat
menunjang keberhasilan belajar. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran
dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak
siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam
alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya. Lingkungan yang
dapat menunjang keberhasilan belajar diantaranya adalah, lembaga-lembaga
pendidikan nonformal, seperti kursus bahasa asing, bimbingan tes, pengajian
remaja dan lain-lain.
c. Lingkungan
social keluarga.
Faktor
lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama pula
dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. Suasana
lingkungan rumah yang cukup tenang, adanya perhatian orangtua terhadap
perkembangan proses belajar dan pendidikan anak-anaknya maka akan mempengaruhi
keberhasilan belajarnya. Ketegangan keluarga,
sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga,
semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan
antara anggota keluarga, orang tua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan
membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
2) Lingkungan non sosial
Faktor-faktor
yang termasuk lingkungan nonsosial adalah:
a.
Lingkungan
alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar
yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang
sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupakan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak
mendukung, proses belajar siswa akan terlambat.
b. Faktor materi
pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Faktor ini
hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga dengan metode mengajar
guru, disesuaikan dengan kondisi
perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap
aktivitas belajar siswa, maka
guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat
diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.
3) Faktor
Instrumental
Faktor instrumental adalah faktor yang
keberadaan dan penggunaanya dirancangkan sesuai dengan hasil
belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat
berfungsi sebagai sarana untuk
tercapainya tujuan-tujuan belajar yang telah
direncanakan, faktor-faktor instrument ini dapat berwujud
faktor-faktor seperti:
a. Gedung
perlengkapan belajar
b. Alat-alat
praktikum
c. Perpustakaan
d. Kurikulum
e. Bahan / program
yang dipelajari
f. Pedoman-pedoman
belajar & sebagainya.
2.3. Faktor Internal
A) Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis
adalah factor-factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini
dibedakan menjadi dua macam :
1) Keadaan jasmani. Keadaan jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas
belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh
positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang
lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu
keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar , maka perlu ada usaha
untuk menjaga kesehatan jasmani.
2)
Keadaan fungsi
jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis
pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama panca indra.
Panca indra yang berfunsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan
baik pula. Dalam proses
belajar, merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan
ditangkap oleh manusia. Sehingga manusia
dapat menangkap dunia luar. Panca indra yang memiliki peran besar dalam
aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh karena itu, baik guru maupun
siswa perlu menjaga panca indra dengan baik. Dengan menyediakan sarana belajar
yang memenuhi persyaratan, memeriksakan kesehatan fungsi mata dan telinga
secara periodic, mengonsumsi makanan yang bergizi , dan lain sebagainya.
B)
Faktor Psikologis
Faktor psikologis yang mempengaruhi
keberhasilan belajar ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan kondisi
mental seseorang. Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar
adalah kondisi mental yang mantap dan stabil.
Beberapa factor
psikologis yang utama memngaruhi proses belajar adalah :
a) Kecerdasan /Intelegensi Siswa
Intelegensi adalah
kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menhadapi dan
menyesuaikan kedalam situasi baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau konsep-konsep
yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
Intelegensi
besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar dalam situasi
yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi
yang rendah.
Pada umumnya kecerdasan diartikan
sebagai kemampuan psiko-fisik dalam
mereaksikan rangsaganan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara
yang tepat. Dengan
dmikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi
juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan,
tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena
fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari
hamper seluruh aktivitas manusia.
Tingkat kecerdasan siswa sangat menentukan
tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini berarti, semakin tinggi kemampuan
intelijensi siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses,
sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelijensi siswa maka semakin kecil
peluangnya untuk memperoleh kesuksesan.
Setiap calon guru dan guru
profesional sepantasnya menyadari bahwa keluarbiasaan intelijensi siswa , baik
yang positif seperti superior maupun yang negatif seperti borderline,
lajimnya menimbulkan kesuksesan belajar siswa yang bersangkutan. Disatu sisi
siswa yang sangat cerdas akan merasa tidak mendapat perhatian yang memadai dari
sekolah karena pelajaran yang disajikan terlampau mudah baginya. Akibatny dia
enjadi bosan dan frustasi karena tuntutan kebutuhan keinginanya merasa
dibendung secara tidak adil. Disisi lain, siswa yang bodoh akan merasa payah
mengikuti sajian pelajaran karena terlalu sukar baginya. Karenanya siswa itu
sangat tertekan, dan akhirnya merasa bosan dan frustasi seperti yang dialami
rekannya yang luar biasa positif.
Para ahli membagi tingkatan IQ
bermacam-macam, salah satunya adalah penggolongan tingkat IQ berdasarkan tes
Stanford-Biner yang telah direvisi oleh Terman dan Merill sebagai berikut:
Tingkat Kecerdasan IQ
|
Klasifikasi
|
140 - 169
|
Amat Superior
|
120 – 139
|
Superior
|
110 - 119
|
Rata-rata tinggi
|
90 - 109
|
Rata-rata
|
80 – 89
|
Rata-rata rendah
|
70 – 79
|
Batas lemah mental
|
20 – 69
|
Lemah mental
|
Dari
table tersebut dapat diketahui ada 7 penggolongan tingkat kecerdasan Manusia,
yaitu :
- Kelompok kecerdasan amat superior (very superior) merentang antara IQ 140–169
- Kelompok kecerdasan superior merentang antara IQ 120 – 139
- Kelompok rata-rata tinggi (high average) merentang antara IQ 110 – 119
- Kelompok rata-rata (average) merentang antara IQ 90 – 109
- Kelompok rata-rata rendah (low average) merentang antara IQ 80 – 89
- Kelompok batas lemah mental (borderline defective) berada pada IQ 70 – 79
- Kelompok kecerdasan lemah mental (mentally defective) berada pada IQ 20 - 69, yang termasuk dalam kecerdasan tingkat ini antara lain debil, imbisil, dan idiot.
b) Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin
melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai
proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan
menjaga perilaku setiap saat. Motivasi juga
diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap
intensitas dan arah perilaku seseorang. motivasi dalam belajar menurut Clayton Aldelfer adalah
kecenderungan siswa dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat
untuk mencapai prestasi hasil belajar sebaik mungkin.
Dari segi sumbernya
motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi
ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah semua
faktor yang berasal dari dalam diri individu dan
memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar
membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak
hanya menjadi aktifitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah mejadi
kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi intrinsik memiliki
pengaruh yang efektif, karena motivasi intrinsik relatif lebih
lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar(ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang
termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar
anatara lain adalah:
a.
Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang
lebih luas
b.
Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada
manusia dan keinginan untuk maju
c.
Adanya keinginan untuk mencapai prestasi
sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orang tua,
saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebaginya.
d.
Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau
pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar
diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti
pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orang tua, dan lain
sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungan secara positif
akan mempengaruhi
semangat belajar seseorang menjadi lemah.
c) Minat
Secara sederhana, minat
(interest) berarti kecenderungan
dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut
Reber Syah, minat bukanlah istilah yang popular dalam psikologi disebabkan
ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal
lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, moativasi, dan kebutuhan
Namun lepas dari
kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena
memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau
bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas,
seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar
tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dihadapainya atau dipelajaranya.
Untuk membangkitkan minat
belajar tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Antara lain, pertama, dengan
membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan,
baik dari bentuk buku materi, desain pembelajaran yang membebaskan siswa
mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif,
afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru
yang menarik saat mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang
studi. Dalam hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih
sendiri oleh siswa sesuai dengan minatnya.
d) Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat
memengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang
mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dangan
cara yang relative tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebaginya, baik
secara positif maupun negatif.
Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi
oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau
lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar,
guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang professional dan
bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas, seorang guru
akan berusaha memberikan yang terbaik bagi siswanya, berusaha mengembangkan
kepribadian sebagai seorang guru yang empati, sabar, dan tulus kepada muridnya, berusaha untuk
menyajikan pelajaran yang dia punya dengan
baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang
dan tidak menjemukan, meyakinkan siswa bahwa
bidang studi yang dipelajari bermanfaat
bagi diri siswa.
e) Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses
belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada
masa yang akan dating. Berkaitan
dengan belajar, Slavin (1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang
dimilki seorang siswa untuk belajar.[1][8]
Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satu komponen yang
diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai
dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses
belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau
potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya
masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar
individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan
latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah
menyerap informasi yang berhubungan dengan
bakat yang dimilikinya.
Misalnya, siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari
bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.
Karena belajar juga
dipengaruhi oleh potensi yang dimilki setiap individu, maka para pendidik,
orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimilki oleh
anaknya atau peserta didiknya, anatara lain dengan mendukung, ikut
mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai
dengan bakatnya.
f) Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang
memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik.
Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas
belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa
melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material
pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain
peran (role playing), debat dan
sebagainya.
Strategi pembelajaran seperti ini juga dapat
memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan
dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari
dorongan-dorongan untuk
mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di
balik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian
psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan
yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.
g) Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh
subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan.
Pengamatan merupakan gerbang bagi masuknya
pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan
penting artinya bagi pembelajaran.
Untuk kepentingan pengaturan proses
pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan
tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur
modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar.
Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses
belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik
lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
h) Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan
dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan
kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah
“ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan
mereproduksi kesan. Kecakapan
merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah,
subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan
pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar
dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu,
pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih
mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa
rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik
adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek)
dan sebagainya.
i) Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah
berkembangnya ide dan konsep di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan
konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian
informasi yang tersimpan di dalam diri seseorang yang
berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir
pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1)
pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan
kesimpulan.
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah
sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya
memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang
perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini,
dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk
memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran
akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya,
para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian
pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong
subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti
ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan
kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.
j) Motif
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik
yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh
jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat
menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif
ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik
sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar
membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.
Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu
selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif
intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati
hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui
penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik.
Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang
lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar
tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisa juga
dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik. Melalui
grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus
membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya. Dengan melihat
grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya
tidak berada di bawah prestasi orang lain.
2.4. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan
kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut
tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat
perhatian pada pelajaran, guru perlu menggunakan bermacam-macam strategi
belajar-mengajar, dan memperhitungkan waktu belajar serta selingan istirahat.
Dalam pengajaran klasikal, menurut Rooijakker, kekuatan perhatian selama tiga
puluh menit telah menurun. Ia menyarankan agar guru memberikan istirahat
selingan beberapa menit.
2.5. Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri timbul dari
keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa
percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses
belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan
diri” yang diakui oleh guru dan teman- temannya. Semakin sering berhasil
menyelesaikan tugas, maka semakin besar pula memperoleh pengakuan dari umum dan
selanjutnya rasa percaya diri semakin kuat. Dan hal yang sebaliknya pun dapat
terjadi. Kegagalan yang berulang kali dapat menimbulkan rasa tidak percaya
diri. Bila rasa tidak percaya diri sangat kuat, maka diduga siswa akan menjadi
takut belajar. Rasa takut belajar tersebut terjalin secara komplementer dengan
rasa takut gagal lagi. Maka, guru sebaiknya mendorong keberanian siswa secara
terus-menerus, memberikan bermacam-macam penguat dan memberikan pengakuan dan
kepercayaan bagi siswa.
2.6. Kebiasaan Belajar
Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan
adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara
lain:
- Belajar pada akhir semester
- Belajar tidak teratur
- Menyia - nyiakan kesempatan belajar
- Bersekolah hanya untuk bergengsi
- Dating terlambat bergaya seperti pemimpin
- Bergaya jantan seperti merokok, sok menggurui teman lain,
- Bergaya minta “belas kasihan” tanpa belajar.
Kebiasaa-kebiasaan buruk tersebut
dapat ditemukan di sekolah yang ada di kota besar, kota kecil, pedesaan dan
sekolah-sekolah lain. Untuk sebagian orang, kebiasaan belajar tersebut
disebabkan oleh ketidak mengertian siswa pada arti belajar bagi diri sendiri.
Hal seperti ini dapat diperbaiki dengan pembinaan disiplin membelajarkan diri.
2.7. Cita-cita Siswa
Pada
umumnya, setiap anak memiliki suatu cita-cita dalam hidup. Cita-cita itu
merupakan motivasi instrinsik. Tetapi, ada kalanya “gambaran yang jelas”
tentang tokoh teladan bagi siswa belum ada. Akibatnya, siswa hanya berprilaku
ikut-ikutan.
Cita-cita sebagai motivasi
instrinsik perlu dididikan. Penanaman memiliki cita –cita harus dimulai sejak sekolah
dasar. Di sekolah menengah didikan pemilikan dan pencapaian cita – cita sudah semakin terarah.
Cita-cita merupakan wujud eksplorasi dan emansipasi diri siswa. Penanaman
pemilikan dan pencapaian cita-cita sudah sebaiknya berpangkal dari kemampuan
berprestasi, dimulai dari hal yang sederhana ke yang semakin sulit.
Dengan mengaitkan pemilikan
cita-cita dengan kemampuan berprestasi, maka siswa diharapkan berani
bereksplorasi sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Faktor- faktor yang mempengaruhi
proses belajar terdiri atas faktor internal dan eksternal. Faktor internal
adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat
mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor
fisiologis dan faktor psikologis. Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi
balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial
dan factor lingkungan nonsosial.
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan
kondisi fisik individu. Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang
dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama
mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan
bakat.
Faktor-faktor eksternal yang
meliputi lingkungan social diantaranya faktor sekolah, masyarakat, dan
keluarga. Sedangkan faktor eksternal lingkungan non-sosial diantaranya
lingkungan alamiah, instrumental, dan mata pelajaran.
3.2 Saran
Saran dari penulis untuk
para pembaca, entah sebagai staf pengajar ataupun peserta didik haruslah lebih
memperhatikan faktor-faktor yang mendukung proses kegiatan belajar dan
mengajar. Karena dari faktor-faktor tersebut kita dapat lebih meningkatkan hasi
dari kegiatan belajar dan mengajar yang kita lakukan selama ini.
Dalam penulisan makalah ini, penulis masih memiliki banyak kekurangan. Maka dari itu, penulis
mengharapkan semoga para pembaca bisa memberikan masukan kepada penulis dan semoga makalah ini dipergunakan sebaik-baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar